Penggunaan Kata Will Would Shall dan Should Could Dalam Bahasa Inggris Dan Contoh Kalimatnya
Penggunaan Kata Will Would Shall dan Should Could Dalam Bahasa Inggris Dan Contoh Kalimatnya

Penggunaan Kata “Will”, “Would”, “Shall”, “Should”, “Could” Dalam Bahasa Inggris Dan Contoh Kalimatnya

Posted on

Penggunaan Kata “Will”, “Would”, “Shall”, “Should”, “Could” Dalam Bahasa Inggris Dan Contoh Kalimatnya

Penggunaan Kata Will Would Shall dan Should Could Dalam Bahasa Inggris Dan Contoh Kalimatnya

 

Pembahasan tentang modal auxiliary. Untuk kawan-kawan yang berminat membaca bagian pertama tentang penggunaan “can” dan “could” atau bagian kedua tentang modal auxiliaries secara umum.

“Will”, “would”, “shall”, dan “should” masih merupakan bagian dari kelompok modal auxiliaries. “Would” dan “should” aslinya merupakan bentuk lampau dari “will” dan “shall”, namun belakangan ada pergeseran makna, khususnya bagi “should”.

A. Penggunaan “will” dan “shall”

“Will” dan “shall” dapat digunakan dalam beberapa situasi yang berbeda. Yang paling terkenal tentu saja, penggunaan kedua kata tersebut dalam Simple Future Tense, untuk menyatakan secara sederhana apa yang akan terjadi di masa depan, baik sebagai sebuah rencana ataupun sebuah perkiraan. Contoh:

– By the year 2015, South East Asia will enter a free trade era.

loading...

– We shall finish that problem easily.

Namun ada sebagian pengguna Bahasa Inggris (khususnya British English) yang membedakan antara penggunaan “will” dan “shall”. Menurut mereka, “shall” lebih cenderung hanya digunakan untuk subjek dengan kata ganti orang pertama, yaitu “I” dan “we”, sedangkan sisanya seperti “they”, “you”, “he”, “she”, dan “it” cenderung menggunakan “will”. Kata ganti orang pertama adalah kata ganti yang memposisikan sebagai orang yang berbicara, kata ganti kedua –you– diposisikan sebagai orang yang diajak bicara, sedang kata ganti orang ketiga –they, he, she, it– sebagai yang menjadi bahan pembicaraan.

Kata “shall” juga menunjukkan nada pembicaraan yang lebih formal dibandingkan “will”. Ini ditunjukkan dengan banyaknya penggunaan “shall” di dokumen-dokumen legal seperti peraturan / undang-undang atau teks-teks keagamaan seperti Bibel versi Bahasa Inggris.

Kata “will” juga menyiratkan makna lain, yaitu “willingness” alias “kesediaan” atau “niat”. Ini makanya kenapa kalau seorang lelaki di Barat akan meminta seorang wanita menjadi isterinya, dia akan mengucap kalimat:

– “Will you marry me?”

Kalimat tersebut bisa saja diucapkan seperti ini:

– “Are you going to marry me?”

tapi kemudian nuansanya akan berbeda.

Selain itu, “will” juga dapat menyiratkan “kapasitas” atau “kemampuan”, seperti pada kalimat berikut :

– The ship will carry 3.500 passengers in one single trip.

Kata “will” dan “shall” sama-sama bisa dipendekkan menjadi akhiran -‘ll. Contoh terkenal dari pemendekan kata ini adalah slogan klub sepakbola Inggris, Liverpool FC : “You’ll Never Walk Alone” atau kalimat ikonik Arnold Schwarzenegger saat berperan menjadi Terminator: “I’ll be back!” Tidak hanya bentuk positif “will” dan “shall” yang bisa dipendekkan. Bentuk negatif “will not” bisa diringkas menjadi “won’t” sementara “shall not” dapat kita ringkas menjadi “shan’t”.


B. Penggunaan “Would” dan “Should”

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, “should” dan “would” adalah bentuk lampau dari “shall” dan “will”. Kita akan bahas mulai dari “would” terlebih dahulu. Penggunaan “would” yang pertama adalah untuk menyatakan Past Future Tense. Apa maksudnya kok ada “past future”? Katanya “masa depan”, tapi kok “sudah berlalu”?

Jadi begini contohnya. Saat artikel ini ditulis (2014) saya sudah lama sekali (hampir delapan tahun) lulus dari SMA. Tapi saya kilas balik saat saya lulus SMP. Saya bisa berucap kalimat seperti ini:

– “I would enroll to SMAN 70 or SMAN 78, but destiny took me to SMAN 32.”

Kalimat di atas menunjukkan, bagi Andrie tahun 2006, masuk SMAN 70 atau SMAN 78 adalah sebuah rencana. Tapi, bagi saya hari ini (Andrie tahun 2014), rencana itu sudah lewat.

“Should” juga sebetulnya bisa digunakan sebagai bentuk lampau dari “shall”, namun di masa sekarang lebih cenderung digunakan sebagai sinonim “ought to”, yaitu untuk menunjukkan saran atau nasihat “Sebaiknya …”

Would juga banyak digunakan di kalimat pengandaian (if clause atau conditional sentence), semisal:

– If I did not wake up late, I wouldn’t miss the train. (Masih ada kemungkinan naik kereta.)

atau:

– If I hadn’t woken up late, I wouldn’t have missed the train. (Penyesalan, sudah terlanjur tertinggal kereta.)


 

B. Penggunaan “Could”

Kata Could merupakan bentuk lampau dari can, kata could lebih menekankan pada kebisaan / kesanggupan. Dalam kalimat permintaan, penggunaan kata could lebih terlihat formal atau lebih sopan. Seperti: Could you help me, please? atau Could you tell me where the post office is, please?

Penggunaan ketiga kata tersebut memang memiliki makna hampir sama, namun bukan berarti kita dapat menggunakan salah satu kata tersebut secara bebas, tentunya harus disesuaikan dengan lawan bicara kita dan kondisi saat itu,


Demikianlah penjelasan singkat mengenai penggunaan “shall”, “will”, “should” dan “would”. Jika ada pertanyaan, dapat ditanyakan via facebook di fanpage, Semoga bermanfaat, tetap semangat belajar Sahabat SBI 🙂

Sumber : https://www.facebook.com/notes/andrie-prasetyo/penggunaan-will-would-shall-dan-should/10152687725044684

 

Lihat juga materi SBI Lainnya :

Facebook Comments