Cara Menjadi Ahli Penerjemah Bahasa Inggris Ke Bahasa Indonesia

Posted on

Cara Menjadi Ahli Penerjemah Bahasa Inggris Ke Bahasa Indonesia – Para Sahabat SBI yang baik hatinya, dalam menerjemahkan teks Bahasa inggris ke dalam teks bahasa Indonesia, kita tidak semata-mata mengartikan mentah-mentah kata demi kata kalimat demi kalimat karena akan menghasilkan arti yang rancu dan pesan pada teks kemungkinan tidak tersampaikan. Untuk menjadi translator atau penerjemah yang ahli, kita harus memperhatikan beberapa unsur penting dibwah ini seperti :

  • Mengartikan per leksikon (perkata),
  • Mengartikan secara struktur gramatikal,
  • Diartikan dengan mempertimbangkan situasi komunikasi,
  • di cocokan konteks budaya dari teks bahasa sumber,
  • menganalisisnya untuk menentukan maknanya,
  • Dan di akhir merekonstruksi dan menganalisi makna yang sama ini yang sesuai dalam bahasa Indonesia dan konteks budayanya.

 Berikut adalah contoh – contoh hasil terjemahan Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia setelah melewati tahap-tahap diatas.

  • TEXT (1)

The Stone Age was a period of history which began in approximately 2 million B.C. and lasted until 3000 B.C. Its name was derived from the stone tools and weapons that modern scientists found. This period was divided into the Paleolithic, Mesolithic, and Neolithic Ages. During the first period (2 million to 8000 B.C.) the first hatchet and use of fire for heating and cooking were developed. As a result of the Ice Age, which evolved around 1 million years into the Paleolithic Age people were forced to seek shelter in caves wear clothing and develop new tools.

During the Mesolithic Age (8000 to 6000 B.C.) people made crude pottery and the first fish hooks, took dogs hunting, and developed a bow and arrow, which was used until the fourteenth century A.D.

The Neolithic Age (6000 to 3000 B.C.) saw humankind domesticating sheep, goats, pigs, and cattle, being less nomadic than in previous eras, establishing permanent settlements, and creating governments.

Meaning in Indonesia according to cultural context

 Zaman Batu adalah zaman sejarah yang dimulai sekitar 2 juta tahun SM dan berakhir pada tahun 3000 SM. Dinamakan zaman batu karena pada zaman ini  banyak terdapat alat-alat  dan senjata dari batu yang ditemukan oleh ilmuwan saat ini. Zaman batu dapat dibagi menjadi 3, yaitu Zaman Paleolithikum, Zaman Mesolithikum, dan Zaman Neolithikum. Selama periode zaman batu yang pertama (2 juta – 8000 SM)  kapak kayu pertama  dan penggunaan api untuk menghangatkan dan memasak sudah dikembangkan. Hasilnya adalah Zaman Es, yang berkembang sekitar 1 juta tahun yang lalu oleh orang Zaman Paleolithikum yang  terpaksa mencari perlindungan di gua-gua dengan memakai pakaian dan mulai mengembangkan alat-alat baru.

Selama Zaman Mesolithikum (8000-6000 SM) orang mulai membuat gerabah kasar dan Alat pancing ikan yang pertama, membawa anjing untuk berburu, dan mengembangkan busur dan anak panah yang digunakan sampai abad keempat belas

Zaman Neolithikum (6000-3000 SM) ditemukan manusia sudah membudidayakan domba, kambing, babi, dan sapi, mulai meninggalkan budaya nomaden seperti zaman sebelumnya, membangun pemukiman tetap, dan menciptakan pemerintahan.

 Cara menjadi ahli translator bahasa inggris-Indonesia

  • TEXT (2)

Hospitals and surgery can be especially frightening for children and to help young patient’s anxiety, one drug company has been experimenting with sedative “lollipops”. Recently the U.S. Food and Drug Administation (FDA) gave the go-ahead to further testing of sweet-tasting fentanyl suckers on children, despite protests from a consumer health group that the lollipop form will give kids the idea drugs are candy. Fentanyl, a widely used narcotic anesthetic agent, is 200 times more potent than morphine.

Fentanyl lollipops can ease kids’ separation from their parents and make the administration of the anesthesia go more smoothly, according to a member of the team that tested them. But the Public Citizen Health Research Group, alarmed by what it believes is a danger to children and a new opportunity for drug abuse, urged the FDA to call a halt to the experiments. Fentanyl is so additive, according to the group’s director, Dr. Sidney Wolfe, that its widespread availability could cause drug- abuse problems. He suggests that hospitals develop other ways to calm young patients, such as making greater usi of play therapy and allowing parents to accompany children into the operating room.

Dr. Gary Henderson, a pharmacologist and an authority on fentanyl abuse, doubts that carefully controlled use of the drug in a hospital setting would pose a danger or suggests to kids that drugs are like candy. *Children will associate few things in the hospital with a pleasant experience” he says.

Meaning in Indonesia according to cultural context

Rumah sakit dan sebuah operasi dapat menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak dan menimbulkan kecemasan bagi para pasien yang masih muda, salah satu perusahaan obat telah melakukan eksperimen dengan obat penenang “lolipop”. Baru-baru ini US Food and Drug Administation (FDA) memberi lampu hijau untuk pengujian lebih lanjut rasa manis fentanyl yang dihisap anak-anak, meskipun mendapat protes dari kelompok kesehatan konsumen bahwa bentuk lollipop akan memberikan anak-anak obat-obatan yang terlarang dalam bentuk permen. Fentanyl yang banyak digunakan para agen anestesi narkotika, bahkan 200 kali lebih keras daripada morfin.

Lollipops fentanyl dapat mendekatkan anak-anak pada orang tua mereka dan membuat peredaran obat bius berjalan lebih lancar, menurut anggota tim penguji. Namun Kelompok Umum Penelitian Kesehatan Masyarakat khawatir dengan apa yang dipercaya mengenai lollipop fentanyl malah membahayakan bagi anak-anak dan kesempatan baru bagi penyalahgunaan narkoba dan mendesak FDA untuk memanggil  sekaligus menghentikan percobaan itu. Fentanyl begitu aditif, menurut direktur kelompok, Dr. Sidney Wolfe, bahwa ketersediaan secara luas dapat menyebabkan masalah penyalahgunaan narkoba. Dia menyarankan agar rumah sakit mengembangkan cara-cara lain untuk menenangkan pasien yang muda, seperti membuat USI lebih besar dari terapi bermain dan mengizinkan orang tua untuk mendampingi anak ke ruang operasi.

Dr Gary Henderson, seorang farmakolog dan penanggung jawab pada penyalahgunaan fentanyl, tidak yakin dengan pengendalian  penggunaan obat dengan hati-hati di rumah sakit akan mebahayakan atau  malah menyarankan kepada anak-anak bahwa obat-obatan itu seperti permen. * Anak-anak akan berinteraksi dengan beberapa hal di rumah sakit dengan pengalaman yang menyenangkan ” menurut beliau.